The Art of Thinking Clearly
Bab 57
Twaddle Tendency
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Twaddle Tendency (Kecenderungan Omong Kosong / Kecenderungan Berceloteh).
Deskripsi Judul: "Jika Anda Tidak Punya Apa-apa untuk Dikatakan, Jangan Katakan Apa-apa" (If You Have Nothing to Say, Say Nothing).
Istilah Terkait: Smokescreen Strategy (Strategi Tabir Asap).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Twaddle Tendency? Ini adalah kecenderungan untuk menggunakan tumpukan kata-kata yang banyak dan rumit untuk menutupi kemalasan intelektual, kebodohan, atau gagasan yang belum matang. Orang menggunakan kefasihan berbicara (eloquence) sebagai kabut asap untuk menyembunyikan fakta bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki pemikiran yang jelas atau solusi yang nyata.
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Twaddle (omong kosong/celoteh tak bermakna) karena fenomena ini menghasilkan aliran kata-kata yang terdengar canggih tapi kosong isinya. Semakin kabur dan fasih kata-katanya, semakin mudah kita tertipu, terutama jika diucapkan oleh figur otoritas (seperti profesor atau CEO).
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Wabah Akademis, Bisnis & Media)
Alasan: Fenomena ini menjamur di dunia akademis (terutama ilmu sosial/ekonomi yang minim hasil terukur), wawancara olahraga (mengisi durasi siaran), dan korporasi. Semakin buruk kondisi perusahaan, semakin banyak "celoteh" CEO-nya untuk menutupi kesulitan.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Miss Teen South Carolina: Saat ditanya mengapa warga AS tidak bisa membaca peta, ia menjawab dengan kalimat panjang yang tidak koheren tentang "AS, Afrika Selatan, Irak, dan masa depan kita". Kata-katanya banyak, tapi tidak ada isinya sama sekali. Videonya viral sebagai contoh kegagalan strategi tabir asap.
- Filsuf & Akademisi (Habermas/Derrida): Banyak akademisi menggunakan jargon super rumit (seperti: "transmisi tradisi budaya yang refleksif...", "konstitusi kebebasan intersubjektif"). Penulis sendiri pernah tertipu mengagumi Jacques Derrida dan menulis disertasi tentangnya, sebelum menyadari bahwa itu hanyalah tumpukan omong kosong yang tidak berguna.
- Wawancara Olahraga: Pewawancara dan atlet sepak bola sering dipaksa mengisi siaran langsung dengan analisis panjang lebar yang berbusa-busa, padahal kenyataannya sederhana: "Kami kalah main." Celoteh ini dilakukan hanya untuk menyamarkan ketidaktahuan atau mengisi kekosongan.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Jadilah Sederhana & Jelas: Ikuti nasihat Jack Welch (mantan CEO GE): Jangan takut terlihat sederhana. Menjadi sederhana dan jelas itu sulit; justru kerumitanlah yang sering kali menjadi tanda ketidakpahaman.
- Cermin Pikiran: Ingatlah bahwa ekspresi verbal adalah cermin pikiran. Pikiran yang jernih menghasilkan kalimat yang jelas. Gagasan yang ambigu menghasilkan racauan kosong.
- Ikuti Mark Twain: Jika Anda belum memahami sesuatu secara mendalam atau tidak punya hal bermutu untuk dikatakan, ikuti prinsip Mark Twain: "Jika Anda tidak punya apa-apa untuk dikatakan, jangan katakan apa-apa.".