Contagion Bias

The Art of Thinking Clearly 
Bab 54
Contagion Bias

1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Contagion Bias (Bias Penularan).
Deskripsi Judul: "Apakah Anda Mau Memakai Sweter Hitler?" (Would You Wear Hitler’s Sweater?).

2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Contagion Bias? Ini adalah ketidakmampuan psikologis kita untuk mengabaikan hubungan yang kita rasakan terhadap objek tertentu yang pernah bersentuhan dengan seseorang atau sesuatu (baik positif maupun negatif). Kita bertindak seolah-olah ada "kekuatan misterius" atau esensi yang menular dari pemilik sebelumnya ke objek tersebut dan menetap di sana selamanya, meskipun secara fisik tidak ada residu yang tertinggal.

Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Contagion (Penularan) karena kita percaya adanya perpindahan sifat tak kasat mata melalui kontak fisik. Kita merasa kejahatan Hitler "menular" ke sweternya, atau kesucian orang suci "menular" ke tulang-belulangnya. Pikiran rasional sulit menghapus perasaan bahwa objek tersebut membawa "muatan" dari masa lalunya.

3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Sulit Dihilangkan)
Alasan: Penulis mengakui bahwa orang yang paling rasional sekalipun (termasuk dirinya) kesulitan mematikan keyakinan pada kekuatan tak kasat mata ini. Reaksi emosional ini sangat sulit dikesampingkan, bahkan ketika kita tahu objeknya sudah dicuci bersih atau tidak berbahaya secara fisik.

4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Sweter Hitler: Apakah Anda mau memakai sweter yang pernah dipakai Hitler, meskipun sudah dicuci bersih di binatu? Kebanyakan orang akan menolak. Secara fisik, tidak ada satu pun molekul keringat Hitler yang tersisa. Namun, kita merasa jijik karena bias penularan membuat kita merasa sweter itu masih mengandung "aura" Hitler.

- Relik Orang Suci (Abad Pertengahan): Uskup di Prancis abad ke-10 berhasil menghentikan pertempuran para ksatria beringas hanya dengan mengibaskan kain berdarah dan tulang-belulang orang suci. Para ksatria memiliki rasa hormat dan takut yang luar biasa terhadap benda-benda itu karena percaya "kekuatan suci" menempel padanya.

- Gelas Saddam Hussein & Foto Kekasih: Seorang tamu makan malam memuntahkan anggurnya setelah tahu gelas emas yang dipakainya adalah bekas milik Saddam Hussein, seolah kejahatan Saddam menular lewat gelas. Di sisi lain, dalam eksperimen Paul Rozin, orang merasa ragu dan tidak akurat saat diminta melempar panah ke foto orang yang mereka cintai, seolah melukai foto itu akan melukai orang aslinya secara magis.

5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Sadar Molekul: Saat merasa jijik pada benda bekas tokoh jahat, ingatlah fakta sains: Kita berbagi miliaran molekul dengan Saddam Hussein (atau tokoh lain) setiap kali bernapas. Kontak udara ini jauh lebih intim secara kimiawi daripada sekadar memegang gelas, tapi kita tidak memikirkannya.

- Pisahkan Objek dari Sejarah: Sadarilah bahwa reaksi Anda adalah emosional, bukan rasional. Benda mati tidak memiliki memori atau moralitas.

- Hormati Kekuatan Simbol: Meskipun bias ini irasional, sadarilah bahwa simbol (seperti foto atau benda peninggalan) memiliki dampak psikologis yang nyata bagi diri sendiri dan orang lain.

Leave a Comment