The Art of Thinking Clearly
Bab 40
Forecast Illusion
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Forecast Illusion (Ilusi Ramalan).
Deskripsi Judul: "Nabi-Nabi Palsu" (False Prophets).
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Forecast Illusion? Ini adalah kecenderungan kita untuk mempercayai prediksi para ahli tentang peristiwa masa depan yang kompleks, padahal bukti menunjukkan bahwa akurasi mereka sangat rendah. Para ahli sering kali menikmati kebebasan tanpa konsekuensi: jika benar mereka dapat pujian, jika salah mereka tidak dihukum. Akibatnya, mereka memproduksi prediksi sebanyak mungkin.
Mengapa dinamakan demikian? Dinamakan Forecast Illusion karena kemampuan memprediksi masa depan (terutama untuk sistem yang kompleks seperti ekonomi atau politik global) hanyalah sebuah ilusi. John Kenneth Galbraith membagi peramal menjadi dua: mereka yang tidak tahu, dan mereka yang tidak tahu bahwa mereka tidak tahu. Kita hidup dalam ilusi bahwa para ahli ini memiliki pengetahuan khusus tentang masa depan, padahal akurasi mereka hanya sedikit lebih baik dari generator acak.
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Industri Besar)
Alasan: Setiap hari kita dibombardir prediksi (harga saham, politik, teknologi). Amerika Serikat mempekerjakan puluhan ribu ekonom purna waktu untuk memprediksi resesi, namun hasilnya nihil. Sistem insentif yang "win-win" bagi peramal (dapat panggung jika benar, dimaafkan jika salah) membuat ilusi ini terus berlanjut tanpa henti.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Studi Philip Tetlock: Tetlock mengevaluasi 28.361 prediksi dari 284 profesional selama 10 tahun. Hasilnya mengejutkan: akurasi para ahli hanya sedikit lebih baik daripada tebakan acak (random forecast generator). Ironisnya, pakar yang paling sering muncul di media (media darlings) justru memiliki performa terburuk, terutama mereka yang suka meramalkan kehancuran.
- Para Ekonom AS: Peter Lynch mencatat ada 60.000 ekonom di AS. Jika mereka bisa memprediksi resesi dua kali berturut-turut saja, mereka semua sudah jadi miliarder. Faktanya, kebanyakan masih bekerja sebagai pegawai biasa, yang membuktikan bahwa kemampuan prediksi mereka tidak valid.
- Prediksi Berita Utama: Kita sering mendengar: "Facebook akan jadi platform hiburan no.1 dalam 3 tahun" atau "Minyak mentah habis dalam 15 tahun" atau "Negara X akan runtuh". Banyak prediksi kehancuran negara (Kanada, China, Belgia) yang pernah diucapkan pakar ternyata tidak terbukti sama sekali.
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Tanyakan Insentifnya: Saat mendengar prediksi, tanya: Apa insentif si ahli? Apakah dia akan kehilangan pekerjaan jika salah? Atau dia hanya mencari sensasi untuk jual buku? Pakar tipe kedua biasanya membuat ramalan sensasional agar diliput media.
- Cek Rekam Jejak (Track Record): Jangan percaya prediksi tanpa melihat rekam jejak. Berapa banyak prediksi yang dia buat 5 tahun terakhir? Berapa yang benar dan berapa yang salah? Media harusnya mewajibkan data ini sebelum memuat ramalan.
- Hadapi dengan Senyuman: Bersikaplah kritis. Setiap kali mendengar prediksi sesuram apa pun, tersenyumlah, karena Anda tahu betapa buruknya akurasi prediksi tersebut.