The Art of Thinking Clearly
Bab 1
Survivorship Bias
1. Nama Fallacy (Termasuk Alias)
Nama Utama: Survivorship Bias.
Istilah Bahasa Indonesia: Bias Kebersintasan.
Alias Lain: Bias Survivor, The Cemetery of Failures.
2. Penjelasan Fallacy
Apa itu Survivorship Bias?
Survivorship Bias adalah kesalahan logika di mana orang secara sistematis melebih-lebihkan peluang keberhasilan mereka. Hal ini terjadi karena kita hanya melihat "para penyintas" (mereka yang sukses/bertahan) sementara mereka yang gagal menghilang dari pandangan (tidak terlihat).
Mengapa dinamakan demikian?
Karena fokus kita hanya tertuju pada subjek yang "survived" (bertahan hidup). Dalam kehidupan sehari-hari, kesuksesan dibuat sangat terlihat oleh media, sedangkan kegagalan tidak dilaporkan. Akibatnya, kita menganggap kesuksesan adalah hal yang wajar atau mudah dicapai, padahal probabilitas aslinya sering kali sangat kecil (distorted probability).
3. Ranking Probabilitas Terjadi di Masyarakat
Skor: 5/5 (Sangat Sering / Hampir Selalu Terjadi)
Alasan: Fallacy ini mendapatkan skor maksimal karena sifat alaminya yang sistematis dan otomatis. Otak manusia secara alami hanya memproses apa yang terlihat (what is visible).
Media dan budaya pop secara eksklusif hanya menyoroti pemenang (atlet juara, CEO sukses, penulis best-seller). Karena "kuburan kegagalan" tidak kasat mata bagi publik, masyarakat secara default akan selalu berasumsi bahwa peluang sukses lebih tinggi daripada kenyataannya, kecuali mereka secara sadar melakukan riset mendalam untuk mencari data kegagalan.
4. 3 Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari
- Ilusi "Rock Star" & Seniman:
Kita melihat musisi terkenal di mana-mana (TV, Spotify, medsos) dan berpikir, "Banyak orang bisa jadi artis sukses, saya juga bisa." Kita tidak melihat puluhan ribu musisi gagal yang tidak pernah mendapatkan kontrak rekaman. Kita lupa bahwa "kuburan musisi gagal" berisi 10.000 kali lebih banyak orang daripada panggung kesuksesan.
- Bisnis dan Indeks Saham:
Indeks saham (seperti Dow Jones) hanya memuat perusahaan yang paling sukses dan bertahan hidup. Perusahaan yang bangkrut dikeluarkan dari daftar. Melihat daftar ini membuat kita berpikir bahwa bisnis rata-rata itu kuat dan untung besar, padahal mayoritas usaha rintisan (startup) bangkrut dalam 3 tahun pertama.
- Buku Motivasi & "Rahasia Sukses":
Banyak buku membahas "Kebiasaan Orang Sukses" (misal: X sukses karena bangun jam 4 pagi). Kita menganggap itu kausalitas. Padahal, jika kita mengecek "kuburan" orang gagal, banyak dari mereka juga bangun jam 4 pagi dan bekerja keras, namun tetap gagal. Kita sering salah mengira "kebetulan" sebagai "faktor sukses".
5. Tips untuk Menghindari Fallacy Ini
- Kunjungi "Kuburan" Kegagalan: Secara sadar carilah informasi tentang proyek atau orang yang gagal di bidang yang ingin Anda masuki, bukan hanya melihat idolanya.
- Skeptis Terhadap Pola Sukses: Jangan mudah percaya bahwa jika Anda meniru kebiasaan orang sukses, Anda pasti akan sukses. Sadari peran keberuntungan.
- Cari Data Sendiri: Media tidak meliput kegagalan. Anda harus menggali sendiri data statistik tingkat kegagalan (failure rate) yang sebenarnya untuk mendapatkan ekspektasi yang realistis.