πŸš€ Feeling Behind: β€œWhat agent should own this responsibility?”


Tanggal artikel: 28 Desember 2025

πŸ“ Deskripsi Ringkas
Artikel ini merefleksikan tweet viral dari Andrej Karpathy tentang perasaan "tertinggal" sebagai programmer di era AI. Joe Reis, penulis artikel, menghubungkan sentimen ini dengan masa depan data engineering, di mana peran manusia bergeser dari "penulis kode" menjadi "orkestrator" agen AI. Meskipun AI mengambil alih eksekusi teknis, Reis menekankan bahwa pemahaman fundamental tetap krusial agar manusia bisa menjadi "hakim" yang kompeten atas hasil kerja AI.

1. ⚠️ Problem Statement
Krisis Identitas Programmer: Andrej Karpathy, seorang tokoh AI terkemuka, merasa profesi programmer sedang "di-refaktor" secara dramatis, di mana kontribusi kode manusia semakin jarang diperlukan.

Perasaan Tertinggal: Banyak profesional merasa tertinggal (FOMO) melihat kecepatan perkembangan alat AI yang bisa membuat seseorang 10x lebih produktif jika digunakan dengan benar.

Kesenjangan Keterampilan Baru: Cara kerja lama sudah usang, namun cara kerja baru ("menjadi satu dengan mesin") belum sepenuhnya dipahami atau diadopsi oleh banyak orang.

2. πŸ› οΈ Solusi / Approach
Artikel ini menyarankan adaptasi pola pikir dan alur kerja baru:

Manusia sebagai Orkestrator: Alih-alih menulis setiap baris kode, manusia berperan sebagai konduktor orkestra yang mengarahkan berbagai agen AI untuk melakukan pekerjaan teknis.

Pemanfaatan Agen AI: Menggunakan AI (seperti Claude atau ChatGPT) untuk merancang strategi integrasi AI itu sendiri dalam pekerjaan sehari-hari, khususnya dalam data engineering.

Evaluasi Ulang Metrik: Mengembangkan cara baru untuk mengevaluasi efektivitas kerja agen, karena metrik tradisional mungkin tidak lagi relevan pada skala dan kecepatan kerja AI.

3. πŸ“Š Findings / Results / Impact
Peningkatan Produktivitas Eksponensial: Potensi menjadi "10x engineer" bukan lagi mitos, tapi kemungkinan nyata bagi mereka yang bisa merangkai alat AI dengan tepat.

Pergeseran Tanggung Jawab: Pertanyaan kunci berubah dari "bagaimana saya menulis kode ini?" menjadi "agen mana yang harus memiliki tanggung jawab ini?".

Validasi AI: Claude dan ChatGPT sendiri mengonfirmasi arah tren ini, menyarankan model kerja di mana AI melakukan eksekusi berat dan manusia memegang kendali strategis.

4. βš™οΈ How to Implement (General Pattern)
Kuasai Fundamental: Untuk menjadi "hakim" atau "konduktor" yang baik bagi AI, Anda harus tetap menguasai dasar-dasarnya. Anda tidak bisa menilai apakah kode AI "bagus" jika Anda tidak paham apa itu "bagus".

Eksperimen dengan Agen: Mulailah bertanya pada AI, "Bagaimana saya bisa mengintegrasikan pesan ini ke pekerjaan saya?", dan terapkan saran tersebut secara bertahap.

Jangan Jadi Penonton: Pilih untuk berpartisipasi aktif dalam perubahan ini daripada menunggu di pinggir lapangan.

5. πŸ’‘ Key Takeaways
Fundamental Tetap Raja: Kecepatan dengan AI tanpa pemahaman dasar hanya akan menghasilkan kekacauan dengan lebih cepat. Master the fundamentals!

Orkestrasi > Koding: Masa depan pemrograman adalah tentang merangkai dan mengelola agen, bukan sekadar mengetik sintaks.

Refaktorisasi Profesi: Kita sedang mengalami titik infleksi sekali seumur hidup di mana definisi pekerjaan teknis sedang ditulis ulang secara total.

πŸ—£οΈ Apakah Anda sudah mulai merasa seperti "manajer" bagi kodingan Anda sendiri, atau Anda masih lebih nyaman menulis semuanya dari nol? Bagaimana Anda memastikan kualitas kode yang dihasilkan oleh AI tanpa harus memeriksanya baris per baris?

Sumber:
https://joereis.substack.com/p/feeling-behind

🏷️ #ArtificialIntelligence #DataEngineering #AndrejKarpathy #FutureOfWork #AIProgramming #TechCareers #SoftwareEngineering #Automation #CareerAdvice

Leave a Comment