Gregg Bernstein, seorang peneliti UX senior, baru saja menerbitkan tulisan yang sangat tajam dan provokatif. Ia berpendapat bahwa menyerahkan proses riset pengguna (User Research) kepada AI bukan inovasi, melainkan sabotase diri dan degradasi profesi.
🚧 Masalah: The “Average” Trap
📉 Hasil Rata-rata: AI memang hebat dalam analisis pola, tapi riset yang dihasilkan LLM hanya akan menghasilkan temuan yang “rata-rata”. Jika semua perusahaan menggunakan tool yang sama untuk menghasilkan insight yang sama, di mana letak keunggulan kompetitifnya?
🗑️ Kehilangan Makna: Menggunakan AI untuk membuat persona, jobs-to-be-done, atau sintesis interview menghilangkan nuansa manusiawi yang menjadi inti dari riset kualitatif.
🎭 Ilusi “Customer-Centric”: Banyak tool riset AI dipasarkan bukan untuk membantu peneliti, tapi untuk menggantikan mereka. Menjual lisensi “semua orang bisa jadi peneliti” lebih untung daripada menjual tool pendukung ahli.
🛠️ Solusi: Human-Centric Research (The Real One)
Daripada latah ikut tren “efisiensi 10x” dengan AI, Bernstein menyarankan:
🚫 Tolak “Automasi Total”: Jangan gunakan AI untuk membuat research plan dari nol, mensintesis interview tanpa mendengar rekamannya, atau melakukan wawancara AI. Itu menghilangkan meaning-making yang menjadi keahlian unik manusia.
🧠 Gunakan AI di “Pinggiran”: Pakai AI untuk tugas teknis seperti transkripsi, perapian catatan, atau analisis SQL. Tapi biarkan inti riset (empati, konteks, sintesis wawasan) tetap di tangan manusia.
🛑 Tetapkan Garis Merah: Peneliti harus berani menolak jika diminta melakukan riset AI yang asal-asalan demi mengejar deadline yang tidak masuk akal. “Riset AI yang buruk” hanya akan memvalidasi anggapan eksekutif bahwa riset itu tidak penting (dan penelitinya tidak dibutuhkan).
✅ Dampak
🛡️ Menjaga Kualitas: Riset yang dilakukan manusia menghasilkan wawasan yang lebih dalam, kontekstual, dan bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekadar halusinasi mesin.
👩💻 Melindungi Profesi: Dengan menolak mendegradasi pekerjaan sendiri menjadi sekadar “Quality Control” untuk output AI, peneliti UX mempertahankan nilai unik mereka sebagai ahli yang tidak tergantikan.
💡 Key Takeaways
🤖 “Human-in-the-loop” seringkali cuma klise. Menambahkan manusia kembali ke proses yang sudah diotomasi AI seringkali tidak menambah nilai, malah menambah inefisiensi.
📉 Efisiensi yang ditawarkan AI seringkali semu. Menghasilkan one-pager laporan riset dengan AI mungkin cepat, tapi itu membuat peranmu sebagai pembuat wawasan menjadi dispensible (bisa dibuang).
✊ Luddites bukan anti-teknologi, mereka pro-pekerja. Membela kualitas riset manusiawi adalah bentuk perlawanan terhadap penurunan standar kualitas demi profit jangka pendek vendor tool.
👇 Diskusi Yuk!
Kalian setuju nggak sama pendapat Gregg ini? Atau kalian merasa AI justru sangat membantu kerjaan riset kalian jadi lebih cepat tanpa mengorbankan kualitas?
Apakah kalian pernah merasa insecure profesi UX Researcher bakal diganti AI dalam waktu dekat? Komen di bawah ya! 👇
Sumber:
https://blog.gregg.io/the-only-winning-move-is-not-to-play-b76ab7068e75
#UserResearch #UXDesign #ArtificialIntelligence #GenerativeAI #ProductManagement #TechEthics #FutureOfWork #HumanCenteredDesign #ResearchOps