πŸ€– Kode GPL Dimakan AI: Apakah Modelnya Jadi “Tertular” Lisensi GPL? βš–οΈ



Sejak GitHub Copilot rilis, ada satu debat panas yang belum kelar sampai 2025: “Kalau AI dilatih pakai kode Open Source (GPL), apakah model AI itu sendiri harus jadi Open Source juga?”

Shuji Sado (Open Source Guy) baru saja merilis analisis mendalam tentang status hukum teori “GPL Propagation” ini. Simak bedahannya:

1. ⚠️ Problem Statement (Masalah)

🦠 Viral License: Lisensi GPL sifatnya “Viral” (Copyleft). Turunan dari kode GPL wajib GPL juga.

❓ The Derivative Question: Apakah Model AI dianggap sebagai “Karya Turunan” (Derivative Work) dari data latihnya? Atau cuma sekadar “belajar” pola (seperti manusia baca buku)?

βš–οΈ Risiko Hukum: Jika teori propagasi ini benar, maka perusahaan AI (seperti OpenAI) telah melanggar hukum karena tidak merilis model mereka secara terbuka.

2. πŸ› οΈ Metodologi & Status Hukum (2025)

Artikel ini menyoroti dua kasus pengadilan kunci yang membuat isu ini tetap hidup:

πŸ‡ΊπŸ‡Έ Doe v. GitHub (AS): Pengadilan belum menolak klaim bahwa penggunaan kode open source tanpa atribusi adalah pelanggaran kontrak. Kasus masih jalan.

πŸ‡©πŸ‡ͺ GEMA v. OpenAI (Jerman): Pengadilan Munich memutuskan bahwa jika model bisa memuntahkan kembali data latih (misal: lirik lagu) secara persis, maka model itu dianggap menyimpan “Copy” dari data tersebut. Ini preseden berbahaya buat perusahaan AI.

3. πŸ“ˆ Findings & Counter-Arguments

πŸ“Š Technical Reality: Model AI itu statistik (probabilitas), bukan database yang menyimpan copy-paste kode. Reproduksi persis itu jarang, kecuali terjadi overfitting.

🀯 Practical Nightmare: Kalau semua lisensi “menempel” ke model, bayangkan model yang dilatih dari 1 juta repo dengan lisensi beda-beda (GPL, MIT, Apache). Konflik lisensinya mustahil diurai secara praktis.

πŸ‡―πŸ‡΅ Japanese Law: Di Jepang (Pasal 30-4), penggunaan data untuk machine learning sangat dibebaskan, tidak peduli lisensinya. Beda negara, beda aturan main.

4. πŸ’‘ Key Takeaways

🌫️ Gray Area: Belum ada jawaban hitam-putih. Hukum masih mengejar ketertinggalan teknologi.

🀝 OSI vs FSF: Komunitas Open Source sendiri terbelah. OSI lebih pragmatis (Open Source AI Definition), sementara FSF masih mencari definisi kebebasan yang pas untuk AI.

🚫 Future Impact: Jika pengadilan memenangkan teori “GPL Propagation”, perusahaan AI mungkin akan memblokir total kode GPL dari dataset mereka, yang justru merugikan ekosistem software bebas itu sendiri.

πŸ”— Baca Analisis Lengkapnya:
https://shujisado.org/2025/11/27/gpl-propagates-to-ai-models-trained-on-gpl-code/

#OpenSource #GPL #Licensing #AI #CopyrightLaw #GitHubCopilot #TechPolicy #SoftwareEngineering #LegalTech

Leave a Comment