🚀 How Webflow’s CPO built an AI Chief of Staff


Tanggal artikel: 29 Desember 2025

📝 Deskripsi Ringkas
Episode podcast "How I AI" minggu ini menampilkan Rachel Wolan, CPO Webflow, yang mendemonstrasikan cara ia membangun "AI Chief of Staff" pribadi untuk mengelola kalender, persiapan rapat, dan triase email. Artikel ini menyoroti kekuatan membangun perangkat lunak AI pribadi ("personal software") yang bersifat sementara (ephemeral) dan bagaimana hal tersebut dapat mempercepat adopsi AI di seluruh organisasi.

1. ⚠️ Problem Statement
Beban Administratif Eksekutif: Rachel menghadapi tantangan klasik eksekutif: kalender yang penuh sesak, persiapan rapat yang memakan waktu, dan manajemen email yang melelahkan.

Kesenjangan Adopsi AI: Seringkali tim tidak memahami potensi penuh AI sampai mereka mencobanya sendiri ("blue-pilled moment").

Kebutuhan Custom: Alat produktivitas standar sering kali tidak cukup fleksibel untuk kebutuhan spesifik seorang eksekutif ("N of 1").

2. 🛠️ Solusi / Approach
Rachel membangun serangkaian alat AI khusus untuk dirinya sendiri:

AI Chief of Staff: Sistem yang mengaudit kalender, menyarankan rapat mana yang bisa dilewatkan/didelegasikan, dan bahkan membuat draf pesan pendelegasian.

Markdown sebagai Knowledge Base: Menggunakan file Markdown untuk menyimpan semua informasi (riset makan malam, dokumentasi produk) agar mudah dibaca oleh LLM dan aplikasi web.

Widget Sekali Pakai (Disposable Software): Membuat aplikasi kecil untuk kebutuhan spesifik sesaat (misal: perencanaan roadmap Q4) yang bisa dibuang setelah selesai digunakan.

Builder Days: Mengadakan hari khusus untuk tim membangun prototipe AI guna mendorong antusiasme dari bawah (bottom-up).

3. 📊 Findings / Results / Impact
Efisiensi Waktu: AI secara proaktif mengurangi friksi manajemen waktu dengan mengotomatisasi keputusan kalender dan komunikasi.

Pemahaman Mendalam: Membangun software sendiri adalah cara tercepat bagi eksekutif untuk benar-benar memahami kapabilitas dan batasan AI.

Budaya Inovasi: Kebijakan "No meeting without prototype" dan acara Builder Days berhasil menciptakan budaya di mana tim merasa diberdayakan untuk bereksperimen dengan AI.

4. ⚙️ How to Implement (General Pattern)
Bangun untuk Diri Sendiri (N of 1): Jangan takut membuat alat yang hanya berguna untuk Anda. Kustomisasi adalah kunci efektivitas personal AI.

Perlakukan Software seperti Dokumen: Ubah pola pikir: software tidak harus abadi. Bangun, gunakan, dan buang ("disposable") layaknya dokumen kertas.

Gunakan Format Ramah AI: Simpan catatan dan data pribadi dalam format terstruktur seperti Markdown agar mudah diakses oleh asisten AI Anda.

Mandat Top-Down + Antusiasme Bottom-Up: Tetapkan ekspektasi penggunaan AI dari atas, tapi fasilitasi eksperimen akar rumput dengan kompetisi dan pengakuan.

5. đź’ˇ Key Takeaways
Disposable Software is a Superpower: Kemampuan membuat aplikasi kecil yang bisa dibuang memberikan fleksibilitas luar biasa dalam menyelesaikan masalah sesaat.

Seeing is Believing: Adopsi AI paling efektif terjadi ketika orang mengalami sendiri momen "aha!" saat membangun sesuatu dengan tangan mereka sendiri.

AI sebagai Filter Kejujuran: Rachel menggunakan AI untuk memberikan umpan balik yang "brutally honest", sesuatu yang mungkin sungkan dilakukan oleh staf manusia.

🗣️ Apakah Anda pernah mencoba membuat alat AI sederhana untuk memecahkan masalah spesifik Anda sendiri (seperti mengatur jadwal atau merangkum catatan)? Apa hambatan terbesar Anda untuk mulai "membangun" alat bantu AI pribadi?

Sumber:
https://www.lennysnewsletter.com/p/this-week-on-how-i-ai-how-webflows

🏷️ #ProductManagement #ArtificialIntelligence #PersonalAI #Productivity #Webflow #Leadership #NoCode #SoftwareEngineering #FutureOfWork #AIWorkflows

Leave a Comment