๐Ÿ–ฅ๏ธ Mitos “Harus Microservices”: Seberapa Kuat Sih Satu Server Itu Sebenarnya? ๐Ÿค”


Sering liat developer yang baru bikin MVP tapi infrastrukturnya udah kayak Netflix? Pakai Kubernetes, 10 microservices, dan Load Balancer berlapis. Padahal user-nya belum ada.

Artikel dari Binary Igor ini melakukan eksperimen nyata untuk menjawab: "Sebenarnya satu mesin biasa itu bisa nampung berapa user sih?"
Ini bedahannya:

1. โš ๏ธ Problem Statement (Masalah)
* Premature Optimization: Banyak tim engineering terjebak "Over-engineering". Mereka takut servernya down kalau trafik naik, jadi mereka membangun sistem terdistribusi yang rumit sejak hari pertama.
* Underestimate Hardware: Kita sering meremehkan betapa cepatnya CPU dan I/O modern. Kita pikir satu server cuma kuat nampung ratusan request, padahal jauh lebih gila dari itu.

2. ๐Ÿ› ๏ธ Metodologi & Eksperimen
Penulis melakukan stress test (benchmark) pada Satu Mesin Virtual (VPS) standar.
* Setup: Menggunakan aplikasi web sederhana (Java/Spring Boot dan Go) di atas hardware standar (mirip instance AWS EC2 murah).
* Skenario: Menguji berbagai level beban, mulai dari "Hello World" (teks doang) sampai query database ringan.
* Tujuan: Mencari titik breaking point (kapan servernya menyerah).

3. ๐Ÿ“ˆ Findings & Hasil
Hasilnya bikin kaget banyak orang:
* ๐Ÿš€ Puluhan Ribu RPS: Satu mesin standar bisa menangani 20.000 - 60.000 Request Per Detik (RPS) untuk logika sederhana.
* ๐Ÿ’พ Dengan Database: Bahkan dengan operasi database, satu mesin masih bisa melayani ribuan request per detik dengan latensi rendah.
* Perspektif: 2.000 RPS itu setara dengan 172 Juta request per hari. Apakah startup kamu sudah punya trafik segitu? Kalau belum, satu server sudah cukup!

4. ๐Ÿ’ก Key Takeaways
* Monolith First: Jangan pecah jadi Microservices kalau belum perlu. Kompleksitas infrastruktur (network latency, deployment) seringkali lebih mahal daripada sekadar beli server yang lebih besar (Vertical Scaling).
* Hardware is Cheap, Engineering is Expensive: Lebih murah bayar upgrade RAM/CPU di satu server daripada bayar gaji engineer buat manage cluster Kubernetes yang rumit.
* Know Your Limits: Bottleneck biasanya bukan di bahasa pemrograman (Java vs Go), tapi di konfigurasi OS (File Descriptors, TCP connections) atau Database.

๐Ÿ”— Baca Eksperimen Lengkapnya:
https://binaryigor.com/how-many-http-requests-can-a-single-machine-handle.html

#DevOps #SystemDesign #SoftwareEngineering #ServerPerformance #Backend #Microservices #Monolith #TechReality #Scaling

Leave a Comment